Teras Sulbar: Pupuk Kaltim Hadirkan Kampung Sawah Abadi
Kampung Sawah Abadi Bulutana dibangun dengan pendekatan pemberdayaan: warga desa yang mengelola, bukan sekadar menjadi penonton. Kelompok tani dan pemuda Bulutana berbagi peran menjalankan kawasan yang diresmikan Pupuk Kaltim pada Rabu (5/8/2026) tersebut.
Pengelolaan kawasan dijalankan bersama: kelompok tani menyiapkan lahan dan produksi, sementara pemuda Bulutana menangani kunjungan wisatawan. Sebagian pendapatan dari kunjungan dikembalikan untuk pembiayaan benih, pupuk, hingga pajak lahan petani agar manfaatnya merata.
AVP Pembangunan Sosial dan Lingkungan Departemen TJSL Pupuk Kaltim, Uchin Mahazaki, menyebut tanggung jawab perusahaan tidak berhenti di area produksi, tetapi juga menjangkau wilayah distribusi. Sulawesi Selatan merupakan salah satu pasar Pupuk Kaltim di Indonesia Timur, sehingga menjaga kesuburan lahan di daerah ini menjadi bagian dari komitmen sosial perusahaan.
Dampaknya sudah terasa di lahan. Sebelum program berjalan, hasil panen rata-rata 4 ton per hektare dengan indeks pertanaman dua kali setahun. Kini produktivitas naik ke kisaran 6–7 ton per hektare dan petani mampu memanen tiga kali dalam setahun.
Wisatawan bisa ikut menanam lewat Sipadi
Kawasan ini ditopang sistem digital Sipadi Bulutana. Lewat platform ini wisatawan memesan jadwal kunjungan, ikut menanam padi langsung di lahan, lalu memantau perkembangan tanamannya dari rumah sampai musim panen tiba.
Tertarik merasakan langsung?
Adopsi lahanmu sendiri dan jadi bagian dari cerita pertanian berkelanjutan Bulutana.
Mulai Adopsi SekarangTulisan lainnya
Naratalk: Eco-Trail 230 Meter Percepat Pascapanen Petani
Jalur eco-trail 230 meter memangkas waktu pengangkutan hasil panen di lahan berkontur — sekaligus menjadi jalur jalan kaki wisatawan.
Baca
Warta Kalteng: Produktivitas Padi Bulutana Naik ke 6–7 Ton/Ha
Pendampingan budidaya dan pengelolaan pascapanen mengangkat hasil panen Bulutana dari 4 ton menjadi 6–7 ton per hektare.
Baca
Berita Manado: Panen di Bulutana Kini Tiga Kali Setahun
Hasil panen naik dari 4 ton menjadi 6–7 ton per hektare, dengan frekuensi panen bertambah menjadi tiga kali dalam setahun.
Baca